Djunaidi Baharudin – Managing Director ISORES
Dalam dua tahun terakhir istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) yang sempat ramai sampai berakhirnya masa covid sudah semakin jarang terdengar. Apakah VUCA sudah tidak menjadi isu lagi buat organisasi? Ataukah VUCA nya sendiri sudah menjadi sebuah status quo sehingga tidak perlu dibahas lagi? Hal yang menarik mengenai pembahasannya VUCA adalah seringkali dikaitkan dengan disrupsi bisnis.
Terima kasih untukProf Kamal dari Cambridge Judge Business School dalam salah satu sharingnya pernah membahas mengenai konsep disruption. Mengacu pendekatan yang disampaikan oleh Shih & Christensen 2017, Disrupsi yang paling berdampak dalam dunia bisnis bukan diakibatkan oleh innovasi teknologi baru, akan tetapi justru optimasi penggunaan tehnologi yang telah ada. Hal ini terjadi karena Sebagian besar produk yang di hasilkan untuk konsumen disebutnya memiliki kinerja yang berlebih (performance overshoots) yang tidak dipakai oleh pemiliknya.
Misalnya saja seberapa banyak pemilik jam tangan Rolex Sea dweller 1220m atau Seiko Diver 200M benar-benar menggunakan jam tangannya untuk menyelam 200M atau 1220 M ? Berapa banyak pemilik Ferrari yang menggunakan kecepatan mobilnya sampai mentok? Berapa persen diantara kita yang telah menggunakan semua feature di dalam smartphone kita?. Konsep performance overshoots ini yang kemudian membuka banyak peluang disrupsi dalam bisnis.
Teknologi GPS di handphone muncul pertama kali tahun 1999 di ponsel Benefon Esc. Tetapi optimalisasi penggunaan teknologi GPS dan menjadi sebuah disrupsi bisnis di lakukan oleh Uber pada tahun 2009, Gojek tahun 2010, dan Grab tahun 2012, sepuluh tahun setelah ditemukan tehnologi GPS di ponsel. Uber, Grab dan Gojek bukan penemu teknologi GPS untuk ponsel, tetapi merekalah yang mengoptimalkan penggunaan teknologi GPS di ponsel dalam model bisnisnya sebagai sebuah digital transformation. Instagram juga bukan penemu teknologi foto digital, tetapi optimalisasi penggunaan foto digital dilakukan oleh IG dalam model bisnisnya.
Jadi teknologi apa atau produk apa yang sudah kita beli dan termasuk memiliki kategori performance overshoot? Adakah yang bisa kita ubah menjadi sebuah bisnis model baru dengan memanfaatkan performace gap nya? Atau minimal kapan kita mulai memanfaatkan secara maksimal teknologi dari barang-barang yang kita miliki. Semisal melakukan diving 1200 meter buat rolex seadwiller yang kita miliki? Atau diving 200 meter untuk jam Rolex submariner , Seiko diver atau Casio yang kita miliki? Berenang saja terakhir berapa bulan yang lalu kata anak saya.



Leave a Reply